11 Juli 2008: Tragedi Kebakaran Krendang

Hari itu,tanggal 11 Juli 2008, hari biasa bagiku sampai pukul 4 sore. Bagaimana tidak, sebuah kabar buruk datang lewat telepon yang mengabarkan bahwa rumahku sedang dalam kondisi bahaya kebakaran. Awalnya aku masih tidak percaya, namun setelah beberapa kali telepon dan suara yang keluar dari telepon tersebut adalah nada panik, aku menjadi takut dan gemetaran.

Sontak aku langsung pulang sambil mengendarai motorku dengan kecepatan tinggi. Di tengah mengendarai motorku, jantungku masih berdegub kencang, mulutku komat kamit berdoa minta Tuhan Yesus untuk tidak mengijinkan api untuk melahap rumahku.

Awan gelap mengebul di angkasa, dari kejauhan aku melihat asap tebal itu. Hatiku makin tidak tenang. Saat itu, entah kenapa, aku ingin memuji Tuhan dan aku mulai memuji nama Dia. Setelah bernyanyi sebentar, aku mulai berdoa kembali dan saat itu yang terucap adalah “Ya Tuhan, terjadilah sesuai kehendakMu”.

Semakin dekat dengan rumahku, semakin tercium bau asap tebal itu. Tapi, saat itu aku sudah mulai tenang, karena aku tahu Tuhan besertaku saat itu. Macet mulai melanda pada saat dekat ke daerah rumahku. Orang-orang sudah panik dan sebagian sedang dalam emosi tinggi. Jalan-jalan untuk mengakses kesana sudah mulai diblokir dan dialihkan lewat jalan kecil.

Tak bisa dihindari, macet pun menjadi makanan pengendara motor dan mobil saat itu. Setelah, beberapa saat menghadapi kemacetan, akhir aku sampai ke daerah krendang, tempat kebakaran, tetapi aku bingung, dimana aku menitipkan motorku. Karena aku takut ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan momen buruk pada saat itu.

Tapi, untung Tuhan membukakan jalan pada saat itu. Restoran langganan aku berbaik hati untuk aku dan memperbolehkan aku menitipkan motor disana. Setelah itu, aku mulai berlari ke tempat pengungsian untuk mencari orang tuaku dan adikku.

Pukul 17.30, aku menemukan orang tua dan adikku, dan pada saat yang bersamaan, saudara-saudaraku juga sampai disana. Orang tua dan adikku ikut saudaraku ke tempat paman, sedangkan aku menunggu untuk melihat kondisi.

Aku mulai berjalan menyusuri jalan untuk mencari jalan agar bisa masuk dan melihat kondisi rumahku. Tapi, saat itu sulit sekali karena kerumunan massa yang begitu banyak dan mobil pemadam kebakaran yang besar. Aku berjalan mengikuti jalan, dan tiba di sebuah tepi gang menuju rumahku. Disana aku bisa mencium bau hangus yang pelik dan melihat kobaran dan percikan api yang besar.

Saat itu, aku sudah pasrah dan ikhlas. Aku kembali ke restoran tadi untuk cek motorku. Ternyata disanapun sedang genting, karena api yang terbawa angin sedang menuju kesana. Dengan panic kembali, aku ambil motorku dan berpikir untuk taruh dimana.

Saat itu hanya terpikir 2 tempat, yaitu: tempat temanku di dekat daerahku atau di tempat kokoku (cuma ini jauh dari lokasi). Akhirnya, aku memutuskan menitipkan di tempat temanku. Disana Tuhan bekerja sekali, aku mendapatkan bahwa mereka welcome sekali kepada aku. Aku diberikan makanan, pakaian serta tempat tinggal.

Setelah makan dan istirahat sebentar, aku kembali ke lokasi, dimana lokasi tersebut sudah padam apinya. Aku berjalan pelan-pelan dan melihat sekeliling. Jam pada saat itu menunjukan pukul 9.30 malam. Tiba didepan rumahku, hanya tembok dan reruntuhan yang kudapatkan. Pintu sudah hilang, elektronik sudah hilang, lantai 2 rumahku sudah rubuh, semuanya hilang. Miris hatiku rasanya, tapi anehnya aku tidak menangis dan merasa ada yang menghiburku.

Tak berapa lama, papaku tiba di lokasi. Dia begitu bingung dan shock melihat rumahnya seperti itu. Otomatis logika dia seperti hilang untuk sesaat. Dia masih mencari kunci untuk membuka pintu, mencari cincin dan jam tangan, mencari rokok, dan paling menyakitkan hatiku adalah dia menangis dimana aku mengenal papaku adalah seorang yang berwatak keras.

Aku cuma bisa menghibur, tidak ada yang dapat aku lakukan saat itu. Menghibur, menghibur dan menghibur. Pikiranku cuma bagaimana caranya supaya orang tuaku tidak stress dan over stress (gila). Aku berdoa terus agar mereka diberi ketabahan malam itu.

Singkat kata, aku tiba lagi dirumah temanku itu. Besoknya, pagi-pagi sekali aku sudah berangkat lagi ke lokasi kejadian, karena semalam tidak begitu jelas melihat diakibatkan listrik yang padam. Yang aku lihat hanyalah kesedihan, kekuatiran, kejahatan, serta kebobrokan manusia saat itu.

Tiba dirumahku, aku melihat lokasi itu sudah penuh dengan abu dan puing-puing. Tidak ada yang tersisa, tidak ada yang bisa diambil, tidak ada lagi. Siang hari, penjarahan besi-besi hangus berlangsung untuk beberapa saat, disini kejahatan, kekuatiran serta kebobrokan terlihat jelas. Miris rasanya, dimana nurani mereka itu?

Aku tidak mau disana terlalu lama lagi. Karena, tidak hanya emosi saya terpancing, badanku juga sudah capai menata puing-puing rumahku.

Rumahku hanyalah tinggal kenangan. Kurang lebih 27 tahun tinggal disana terambil hanya dalam 1 jam saja. Yang bisa kulakukan menjadi lebih tabah, kuat dan makin giat serta hemat untuk membangu rumah kenanganku yang baru.

Bagi yang membaca tulisan ini, mohon doa dan dukungannya. God Bless.

Ditulis oleh,

Layong Lim

Jakarta, 14 Juli 2008

2 Responses

  1. [...] to a friend who is among those who have lost everything they have owned for [...]

  2. Tabah lha yong,pasti nnt akan ada yg lebih baik buat loe dan keluarga loe. gue baru dgr kabar2 ttg loe sekarang ini.
    Banyak badai yg datang menghampiri loe yong,smakin kita diatas,makin banyak angin yg datang. mgkn ini ujian dari Tuhan buat dapatin yg lebih baik lg nntnya.
    Turut berduka atas Papa loe yong, Sorry…kmrn wkt gue dgr kabar itu,gue lagi dikalimantan. Gue knal papa loe jg dari gue kecil yong. GBU My Friend… God Always With u…

Leave a Reply