Api yang melahap rumahku pastilah begitu besarnya sehingga rumahku hanya tersisa tembok saja. Api yang kecil membantu manusia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, sedangkan api yang besar bisa mendatangkan musibah seperti kebakaran di krendang tanggal 11 Juli 2008.
Aku memang tidak sempat melihat api melahap rumahku, tapi aku sempat melihat api melahap rumah orang lain. Api yang begitu merah menyala, menari seakan tidak peduli air yang disiram oleh petugas pemadam. Api terus menjalar mengikuti angin yang berhembus.
Langit malam itu merah sekali karena pancaran api yang sedang membakar rumah-rumah warga. Sedih rasanya melihat api yang sebenarnya indah itu, sedang melahap rumah-rumah warga. Tak ada yang bisa dilakukan selain berharap Tuhan ikut turut campur tangan dalam menghentikan kobaran api tersebut.
Malam itu api bukanlah teman yang baik bagi warga krendang, tapi menjadi momok yang menakutkan yang tanpa ampun terus mengamuk.
Semoga didalam hidupku api tidak menjadi momok yang menakutkan lagi, tapi menjadi teman dalam menjalankan operasional sehari-hari.
Kenangan atas api ini akan membekas dalam diriku dan menjadi cerita menarik di kemudian hari.
Filed under: Personal